• Arsip

  • AKTIVITAS

  • Recent Comments

Laporan Samdana

Laporan Samdhana

1. Suela
A. Kondisi Geografis
Desa Suela memiliki luas wilayah 99,4 Km2, dengan jumlah penduduk 6.895 jiwa terdiri dari laki-laki 3.309 jiwa, perempuan 3.586 jiwa, rumah tangga 2.270 KK, serta jarak terpanjnag dari ibu kota Kabupaten 28 km, ibu kota Provinsi 76 km mayoritas penduduknya bergama Islam. Adapun desa Suela terletak di ketinggian 520 meter dari permukaan laut (mdpl) serta curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, di samping itu adapun batas-batas desa Suela sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Sapit dan Bebidas
Sebelah Selatan : Desa Ketangga
Sebelah TImur : Desa Suntalangu
Sebelah Barat : Desa Bebidas dan Wanasaba
Desa Suela terdiri dari satu desa dan 4 dusun (kekadusan) yaitu:
Kadus Suela Daya, Kadus Suela Lauk, Kadus Bila Kembar dan Kadus Cempaka.
B. Keadaan Sosial, Ekonomi, Budaya
1. Demografi
Penduduk desa Suela adalah suku bangsa Sasak sebagai penduduk aslinya yang jumlahnya sekitar 99,98% dan sekitar 0,02% merupakan penduduk pendatang yang berasal dari Flores Nusa Tenggara Timur dan Pulau Jawa.
Suela memiliki penduduk berjumlah sekitar 6964 jiwa, terdiri dari laki-laki berjumlah 3367 jiwa dan perempuan berjumlah 3597 jiwa dengan jumlah kepala keluarga adalah 2288 KK. Jika dilihat dari data yang ada, desa Suela memiliki penduduk yang relatif sedikit jika dibandingkan dengan luas daerah yang dimiliki.

2.Tingkat Kesejahteraan
Kriteria untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat desa Suela berdasarkan hasil analisis pemetaan social adalah sebagai berikut :
Persentase tingkat kesejahteraan masyarakat desa Suela;
a. Kategori Kaya : 10%
b. Kategori Sedang : 40%
c. Kategori Miskin : 50%

Berikut rinciannya :
– Dusun Cempaka penduduknya dominan orang miskin
– Dusun Suela Daya penduduknya dominan berpendapatan sedang
– Dusun Suela Lauk penduduknya dominan berpendapatan sedang
– Dusun Bila Kembar dominan penduduknya miskin

3. Kesehatan
Akses masyarakat Suela terhadap fasilitas kesehatan cukup terjangkau terutama Dusun Suela Lauk dan Seula Daya, karena letaknya di pusat desa, begitu juga dengan Dusun Cempaka walaupun jaraknya 500 m dari pusat desa tidak sulit aksesnya tehadap fasilitas kesehatan, kecuali dusun Bila Kembar yang jaraknya jauh dari pusat desa sehingga aksesnya terhadap fasilitas kesehatan cukup jauh. Status kesehatan penduduk desa Suela tergolong sedang.

4. Pendidikan
Gambaran umum status pendidikan di desa Suela terbilang cukup memadai, ini terbukti karena banyaknya sarana pendidikan formal dan non formal yang terdapat di desa ini, mulai dari TK, SD/MI, SMP/Tsanawiyah, dan SMA bahkan sampai PKBM.

5. Mata Pencaharian
Desa Suela dikelilingi oleh hamparan sawah, kebun dan sedikit ladang, sehingga mata pencaharian penduduknya adalah sebagian besar sebagai petani dan buruh tani, sebagian kecil sebagai wiraswasta pengusaha dan pegawai negeri. Lahan perkebunan sebagian besar berada di dusun Cempaka dan Bila Kembar. Lahan perkebunan yang berada di dusun Cempaka sebagian besar dikuasai oleh orang luar darI Desa Suela dan sebagian kecil dimiliki oleh masyRkT setempat, seperti halnya Kopang II, perkebunan di Kopang II sebagian besar dikuasai oleh orang luar dari Desa Suela dan sebagian oleh masyarakat, sementara di Kopang I berstatus tanah GG.

6. Potensi Sumber Daya Alam
Selain lahan pertanian yang luas dan subur, Desa Suela memiliki sumber daya alam yang penting yaitu Hutan Lindung Lemor yang di dalamnya terdapat lima (5) sumber mata air, satu di antaranya yaitu mata air Lemor yang debit airnya sangat besar. Mata air yang ada di dalam kawasan hutan Lemor merupakan sumber air untuk minum dan irigasi bagi masyarakat Suela dan sekitarnya.
Selain mata air, dalam kawasan hutan lemor ini juga terdapat tempat rekreasi berupa kolam tempat mandi yang bersumber dari mata air setempat. Tempat ini ramai dikunjungi pada hari-hari libur, dan puncak keramaiannya adalah pada hari-hari besar agama. Pada hari-hari besar agama omzetnya bias mencapai Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000 /hari, sementara pada hari-hari biasa omzetnya turun sampai dengan Rp 300.000 – Rp 600.000 /hari.
Wisata pemandian yang dikelola oleh pemerintah daerah ini, tidak begitu terpelihara, sampai saat ini kondisinya sangat memperihatinkan, sampah-sampah berserakan di mana-mana sehingga mengotori mata air dan merusak kelestarian hutan lemor. Masyarakat bebas masuk hutan lemoruntuk berburu burung dan mengambil kayu bakar, sehingga kondisi hutan lemor saat ini sudah rusak, dampaknya mata air lemor sudah mengecil. Kepedulian masyarakat terhadap hutan lemor sangat kurang karena tidak dilibatkan dalam proses pengelolaannya, masyarakat juga mengeluhkan tidak adanya kontribusi hasil pengelolaan potensi hutan lemor terhadap masuarakat setempat.

Download

%d bloggers like this: