• Arsip

  • AKTIVITAS

  • Recent Comments

Pencadangan Area Hutan Kemasyarakatan di Lombok Timur

    a. Kawasan Sambelia
    awasan Hutan Sambelia merupakan kawasan Hutan Produksi yang berbatasan langsung dengan 4 (empat) desa di wilayah kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Luas Hutan Produksi yang menjadi areal HKm mencapai 500 Ha yang terletak di bagian Utara Gunung Rinjani dan merupakan daerah tangkapan air. Kawasan ini mempunyai fungsi hidrologi dan air permukaan yang sangat penting bagi masyarakat Lombok Timur pada umumnya terutama untuk kebutuhan irigasi dan rumah tangga. Lebih dari 22 mata air di hutan lindung mengalir pada beberapa sungai yaitu Kali Pasiran, Pedek, Salut dan Sugian hingga mengalir pada tiga sungai besar ke bagian hilir. Beberapa mata air besar yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adalah Pasiran, Tibu Belek dan Pancoran.
    Kondisi umum vegetasi hutan produksi di Sambelia, khususnya pada areal hutan sebagian besar sudah banyak ditanami jambu mente dan beberapa jenis tanaman semusim yang hasilnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Di samping itu, terdapat kondisi alami yang cukup rimbun dengan berbagai jenis tanaman dan binatang. Jenis-jenis tanaman dimaksud antara lain: Pertama, jenis tanaman di dalam kawasan hutan hasil reboisasi seperti; Sengon, Mente dan Sonokling. Kedua, jenis tanaman kawasan hutan alam seperti Bajur, Gaharu, Rajumas, Jowet, Nyangsit, Panik, Ombar, Bae, Bangsal, Sentul, Prabu, Goak, Tampel, dan Trep.
    Hutan Sambelia juga menjadi habitat beberapa satwa seperti ; Pertama, jenis burung seperti Keliang/Elang, Koak Kaok, Koang Kak, Kembawi/Punglor, Dawi, Terenggiling, Kepunek, Sintu, Krate/Ayam hutan, Siung Bertoang, Katumbek, Bentet/Pring, Kelencer, Kecial, Hantu/Empok, Kuwo dan Gagak. Kedua, jenis binatang melata seperti Ular Hijau, Ular Belae, Ular Sawak/Bentik, Biawak, Ular Jara, Ular Kepu dan Ular Keliang. Ketiga, lain-lain berupa Babi, Kijang, Lutung/Kera, Landak, Kelasih, Menjangan, Tikus, Musang, Torek dan Rase.
    Penduduk yang tinggal di sekitar kawasan hutan produksi Sambelia cukup besar, yang terbesar di 4 desa; Sambelia, Sugian, Belanting dan Obe-obel. Dari 4 desa tersebut, ada 2 Desa yang

    menjadi lokasi areal HKm karena terletak di pinggir kawasan hutan produksi yang berbatasan langsung dengan hutan lindung yang jumlah penduduknya mencapai sekitar 5.146 KK. Jumlah penduduk tersebut serta penduduk lain di sekitarnya sangat menggantungkan hidupnya dari hasil hutan produksi baik hasil kayu maupun non kayu.
    Keberadaan penduduk di wilayah Sugian dan Belanting sekarang ini terjadi karena proses migrasi lokal dan alami yang dalam perkembangannya mengalami pertumbuhan yang semakin tinggi. Ironisnya, laju penduduk yang cukup tinggi tersebut berbanding terbalik dengan sangat terbatasnya lahan hutan sebagai sumber mata pencaharian. Khusus di desa Sugian dan Belanting, sekitar 45,6 % penduduknya sangat menggantungkan kehidupan ekonominya dari hasil pemanfaatan sumber daya hutan produksi, kayu dan non kayu terutama komoditi kayu bakar, seperti yang sudah berlangsung selama sekitar 35 tahun terakhir dimana masyarakat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan perdagangan.
    Di Sambelia, terdapat 20 kelompok tani hutan yang mengelola lahan hutan seluas 500 ha. Kelompok-kelompok tani tersebut terakomodir ke dalam sebuah wadah koperasi yang bernama “Koperasi Wana Lestari”, merupakan hasil dari program sebelumnya yaitu uji coba HKm oleh OECF selama 3 tahun; 1999 sampai dengan 2001.
    Persoalannya, lembaga yang ada tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kelompok-kelompok tani kurang terkoordinir, sekalipun sepintas nampak terorganisir. Artinya, meskipun masyarakat telah tergabung ke dalam kelompok pengelola HKm, namun secara organisatoris kelompok tersebut tidak berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya; (a) tidak lengkapnya perangkat organisasi kelompok masyarakat seperti kepengurusan kelompok, AD/ART kelompok, (b) tidak jelasnya program kerja organisasi kelompok sebagai pedoman pengelolaan area kerja HKm; kelola ekonomi, kelola kelembagaan dan kelola ekologi kawasan.

    b. Sapit
    Kawasan hutan lindung yang berbatasan langsung dengan desa Sapit kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur yang telah dikelola oleh masyarakat memiliki luas mencapai 350 ha yang terletak di bagian Timur Gunung Rinjani, merupakan daerah tangkapan air dari Sub DAS Pohgading Sunggen. Kawasan ini mempunyai fungsi Hidrologi dan air permukaan yang umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi dan air bersih. Lebih dari 14 mata air berada di dalam kawasan hutan lindung Sapit. Terdapat pula 4 sungai yang mengalir hingga ke bagian hilir antara lain kali Grenggengan, Kalik Segerongan, Dongo dan Timbe Gambek. Beberapa mata air besar yang menjadi sumber kehidupan masyarakata yaitu Pesuse, Sebau, Nangka Guci, Timbe Gambek, Surapati, Serata dan Borok nunggak.
    Kondisi umum vegetasi hutan lindung Pesugulan/Sapit, khususnya pada areal Hutan sebagian besar sudah banyak ditanami Durian, Rambutan, Nangka, Kayu manis, Terembesi, Mahoni dan beberapa jenis tanaman semusim yang hasilnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Terdapat juga kondisi alami dengan berbagai jenis tanaman dan binatang sepreti : (1) jenis tanaman di dalam kawasan hutan yang pernah direboisasi seperti Mahoni, Terembesi dan Sonokling, (2) jenis tanaman kawasan hutan alam seperti Bajur, Gaharu, Rajumas, Klokos, Jowet, Nyangsit, Panik, Ombar, Bangsal, Sentul, Prabu, Tampel, dan Trep.
    Kawasan hutan Sapit juga merupakan habitat beberapa satwa seperti ; (1) jenis burung yaitu, Keliang/Elang, Koak Kaok, Koang Kak, Kembawi/Punglor, Dawi, Kepunek, Sintu, Krate/Ayam hutan, Siung Bertoang, cerekcek, Bntet/Pring, Kelencer, Kecial, Hantu/Empok, Kuwo dan Gagak, (2) jenis binatang melata,seperti Ular hijau, Ular belae, Ular Sawak/Bentik, biawak, Ular Jara, Ular Kepu dan Ular Keliang, (3) lain-lain berupa Babi, Kijang, Lutung/Kera, Landak, Kelasih, Menjagan, Tikus, Musang, Torek dan Rase.
    Penduduk yang tinggal di sekitar kawasan hutan lindung Sapit cukup besar, dan yang terbesar terdapat di 2 dusun yaitu Montong Kemong dan Batu Cangku. Desa Sapit berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung dan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Beberapa masyarakat di sekitar pinggir kawasan sangat menggantungkan hidupnya dari hasil hutan lindung, baik berupa hasil kayu maupun non kayu.
    Keberadaan penduduk di wilayah desa Sapit memang telah ada sejak lama, sebagai proses alami yang dalam perkembangannya mengalami pertumbuhan semakin tinggi. Sebagian penduduk desa Sapit tidak mempunyai lahan pertanian sehingga sangat menggantungkan kehidupan ekonominya dari hasil pemanfaatan sumber daya hutan, kayu dan non kayu, khususnya komoditi kayu bakar dan untuk membangun rumah. Selama ertahun-tahun masyarakat memanfaatkan hutan untuk tujuan kebutuhan rumah tangga dan perdagangan.
    Di Sapit belum ada kelembagaan bagi kelompok tani pengelola HKm sehingga masyarakat jalan sendiri-sendiri mengelola lahan garapannya.
    Beberapa persoalan yang muncul diatas akibat dari pendampingan masyarakat yang tidak maksimal baik dari lembaga kemasyarakatan (LSM) ataupun intansi terkait. Masyarakat menginginkan pendampingan yang intensif tidak terbatas pada pelaksanaan program/proyek tetapi tetap berkesinambungan hingga masyarakat mampu melakukan sendiri dalam menjalankan roda kelembagaan yang ada.
    Sementara ini, pengelolaan sumberdaya yang ada dilakukan sendiri-sendiri baik oleh pemerintah maupun program-program yang dilakukan oleh lembaga non pemerintah.
    Dalam proses pengelolaannya, lokasi HKm di kedua wilayah tersebut mengalami berbagai hambatan baik menyangkut tata kelola kawasan; kelola ekonomi, kelola kelembagaan kelompok masyarakat dan kelola ekologi kawasan. Yang paling menonjol adalah menyangkut kapasitas kelembagaan yang semestinya menunjang pelaksanaan kegiatan dalam pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm).

%d bloggers like this: