• Arsip

  • AKTIVITAS

  • Recent Comments

Gerakan NTB Hijau Sebuah Bentuk Antisipasi Dampak Perubahan Iklim Global

Peringatan HUT NTB yang ke 50 tahun memang masih lama. Namun, menyambut HUT emas ini dirangkai dengan berbagai program atau kegiatan yang berkaitan dengan kondisi NTB belakangan ini. Sebut saja, kondisi hutan di daerah ini yang mulai kritis. Jika hal ini dibiarkan akan berakibat fatal bagi masyarakat, karena stok air makin menipis dan kemungkinan terjadinya banjir yang bisa memperparah keadaan.
TERKAIT dengan hal tersebut, sebagai rangkaian dari HUT emas NTB yang jatuh tanggal 17 Desember mendatang, Wakil Gubernur NTB Ir. H. Badrul Munir, M.M, mencanangkan Gerakan NTB Hijau Tingkat Provinsi NTB di Otak Kokoq Joben, Desa Montong Betok, Montong Gading, Lombok Timur. Acara ini juga dirangkai dengan peringatan Puncak Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional, Gerakan Perempuan Tanam, Tebar dan Pelihara Pohon untuk Ketahanan Pangan Keluarga yang dikemas menjadi Gerakan NTB Hijau.

Gerakan NTB Hijau dilaksanakan dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim global (climate change) yang belakangan ini semakin kita rasakan. Beberapa waktu yang lalu, suhu udara di daerah kita mencapai kisaran 320c-360c. Kondisi ini tentu menjadi warning (peringatan) bagi kita, jika kondisi hutan dan lingkungan di sekitar kita sudah mengalami degradasi yang mengkhawatirkan.

Kegiatan yang mengakibatkan perubahan iklim tersebut, antara lain dipicu pembukaan hutan untuk pembangunan pemukiman, perkotaan, industri, pertambangan, pertanian dan lain-lain yang tidak terkendali dan tidak menerapkan kaidah tata ruang yang benar. Selain itu, pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat yang boros sumber daya alam antara lain energi, air, kayu, ruang dan lain-lain, yang tentu akan menyumbang emisi karbon dan bahan beracun/berbahaya lainnya di atmosfir.

Memang harus diakui, kondisi lingkungan yang buruk ini berdampak pada menurunnya produksi pangan rata-rata per kapita. Akibatnya dunia sedang menuju kelaparan, terjadinya pengguguran dan musnahnya biota tertentu. Indonesia pun telah mengalami kondisi itu di mana dari swasembada pangan pada dekade 1980-an kini menjadi negara pengimpor pangan terbesar di dunia meliputi beras, gula, jagung, kedelai, telur dan lain-lain.

Kalau dilihat perkembangan di Indonesia dalam lima tahun terakhir terjadi deforestasi rata-rata 1,2-1,5 juta hektar per tahun, sehingga menimbulkan lahan kritis baru sekitar 50-an juta hektar. Ini merupakan deforestasi terbesar di dunia. Sementara itu, di Provinsi NTB saat ini masih memiliki lahan kritis seluas 509.225,75 hektar atau 25,09% dari luas daratan. Dari luas tersebut dirinci seluas 237.592,94 hektar terletak di dalam kawasan hutan (11,61%) dan seluas 271.632,81 hektar di luar kawasan hutan (13,4%).
Akibat luasnya lahan kritis ini dampaknya sudah dirasakan, seperti berkurangnya sumber mata air dan meningkatnya skala terjadinya berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan lain-lain.

Menyikapi kondisi ini, masyarakat di daerah ini diharapkan tidak melakukan perusakan lingkungan baik berupa penebangan hutan, pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konversasi tanah, membuang limbah/sampah sembarangan, menggunakan racun dalam mencari ikan, merusak daerah tangkap mata air, dan lain-lain.

Selain itu, pencanangan Gerakan NTB Hijau ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita semua dalam melaksanakan penanaman dan pemeliharaan pohon agar terhindar dari berbagai bencana yang menimpa warga kita belakangan ini. Tidak hanya itu, tekad dan upaya dalam melestarikan sumber daya alam dengan perbuatan yang nyata, yaitu melakukan penanaman pohon dan memelihara pohon di setiap jengkal tanah dengan tidak membiarkan tanah menjadi gundul, gersang dan tidak produktif.

Harus disadari, salah satu kebijakan nasional mengurangi subsidi bahan bakar minyak untuk omprongan tembakau merupakan ancaman baru bagi kelestarian hutan. Hal ini disebabkan, karena bahan bakar alternatif yang mudah didapat masyarakat adalah kayu bakar.

Sebagai contoh, kita asumsikan, jika tidak tersedia bahan bakar minyak tanah maupun batubara, maka pengovenan sebesar 13.500 unit oven tembakau virginia Lombok adalah sebesar ± 480 ribu m3 kayu bakar per tahun. Bila potensi hutan kayu bakar 40 m3/ha, maka dibutuhkan 12.000 ha lahan membangun hutan tanaman cadangan pangan dan energi.

Bila kebutuhan kayu bakar tersebut tidak diantisipasi, tentu akan terjadi kerusakan hutan dan lahan sebesar 12.000 ha per tahun, namun bila hal ini diantisipasi dengan perencanaan yang matang, maka peluang usaha pengembangan hutan tanaman cadangan pangan dan energi bisa dilakukan.

Semua itu bisa terlaksana, jika adanya partisipasi aktif para pelaku industri tembakau ambil bagian di dalam pembangunan hutan tanaman cadangan pangan dan energi. Hal ini sebagai upaya keberlanjutan industri tembakau terjamin tanpa terpengaruh oleh fluktuasi harga dan ketersediaan bahan bakar fosil.

Selain itu, sebagai upaya mendukung keberhasilan Gerakan NTB Hijau Provinsi NTB telah disiapkan bibit sebanyak ± 10,3 juta batang. Bibit-bibit tersebut akan segera disalurkan kepada masyarakat di seluruh kabupaten/kota se-NTB.

Dalam hal ini kita tidak terlalu bergantung dari program pemerintah dalam menghijaukan hutan yang rusak. Perlu ada upaya bersama dari seluruh elemen masyarakat di daerah ini mempunyai inisiatif melakukan reboisasi Bagaimanapun, kita yang tinggal di daerah ini yang akan menikmati hasil hutan, seperti tersedianya sumber mata air memadai dan iklim yang sejuk. Pun, kita sendiri yang akan merasakan dampak dari kerusakan hutan, jika kita membiarkan hutan gundul atau rusak. Malahan, kita sendiri yang menjadi pelaku perusakan hutan. Untuk itu, marilah kita tingkatkan kepedulian kita dalam melakukan penanaman pepohonan di sekitar kita. (ham/*)

%d bloggers like this: